jasa instalasi listrik, pemasangan baru, jasa instalasi listrik per titik, instalasi listrik per titik, harga pemasangan instalasi listrik per titik, harga pasang instalasi listrik

saco-indonesia.com, Aksi mogok ratusan nelayan yang sudah dilakukan beberapa hari telah membuat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah, sepi.

Mogok yang telah dilakukan nelayan sebagai protes terkait dalam Peraturan Menteri Sumber Daya Mineral nomor 15 tahun 2013 tentang harga solar industri bagi kapal ikan ukuran di atas 30 gross ton (GT).

pelelangan ikan lebih sepi dari biasanya. Hanya terlihat beberapa petugas yang tengah membersihkan pelelangan tersebut . Sementara ratusan kapal berjejer di tepi pelabuhan tanda tak melaut.

Kepala TPI Tegalsari, Herry Pramadikdo, juga mengatakan kapal yang biasanya membongkar muatan hasil tangkapan lebih sedikit jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.

"Biasanya sampai enam kapal, ini hanya sekitar dua kapal," katanya Kamis(6/2).

Sementara untuk kapal one day fishing hanya sekitar 15 hingga 20 kapal. Padahal di hari biasa mencapai tak kurang dari 40 kapal one day fishing yang telah membongkar muatan hasil tangkapan tersebut.

Proses lelang di TPI Tegalsari pun juga selesai lebih cepat. Lelang biasanya telah dilakukan dua kali dan selesai pada pukul 15.00 WIB.

"Beberapa hari ini lelang ikan selesai pukul 1 siang, yang dilelang hanya sedikit jumlahnya," ujarnya.

Herry juga menjelaskan dampak lain, harga ikan melonjak. Tak tanggung-tanggung, kenaikan harga telah mencapai 100 persen.

Selain mogoknya nelayan sebab kenaikan harga solar, faktor cuaca juga menjadi salah satu penyebab TPI sepi.

"Sudah sejak awal Desember memang cuaca buruk telah membuat nelayan tidak bisa melaut. Sekarang ditambah dengan kenaikan harga solar yang tinggi ," ungkapnya.

Herry juga berharap, pemerintah akan segera mencabut kebijakan pemberlakuan harga solar industri bagi kapal pencari ikan.

"Cepat-cepat ada kesepakatan untuk dapat menyelesaikan masalah. Jika tidak dampaknya akan semakin lama dan harga ikan bisa naik lagi," katanya.

Kenaikan harga ikan juga dikatakan oleh salah seorang penjual ikan.

"Cumi-cumi naik dari Rp 30.000 sekarang harganya Rp 60.000 per kilo," kata Eni pedagang ikan di TPI.


Editor : Dian Sukmawati

NELAYAN MOGOK MELAUT KARENA SOLAR NAIK, HARGA IKAN MELAMBUNG
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »