jasa pasang lampu taman, instalasi lampu taman

Dulu,dikampung saat ada acara perhelatan, sebelum acara utama di kemukakan sebelumnya disuguhkan kepada undangan makanan tradisional yang dihidangkan oleh anak-anak muda yang memakai peci dan sarung dipinggang. Makanan tersebut dihidangkan dengan dulang yang berisikan : KALAMAI, NASI LAMAK, PINYARAM,dan ANAK INTI . Orang tua-tua selalu mengingatkan kepada generasi muda bahwa hidangan yang disebut SIJAMBA LANGKOK tersebut adalah makanan adat yang penuh simbol dan filosofinya dan tidak dapat diganti dengan bentuk lain. ********** Sijamba langkok adalah simbol dari urang ampek jinih yaitu : (penghulu,malin,manti dan dubalang) dalam bentuk makanan adat seperti : KALAMAI merupakan simbol dari penghulu dengan filosofinya dipacik baganggam taguah . Kato penghulu manyalasai. NASI LAMAK merupakan simbol dari malin dengan filosofinya dipacik arek diganggam taguah, suluah bendang dalam nagari, nan tahu dihala nan joharam. Kato alim kato hakikat. PINYARAM merupakan simbol dari manti , dengan filosofinya pipih nan buliah dilayangkan . Manti adalah urang yang arif bijaksano, nan tahu tinggi nan jo randah. Kato manti kato bahubuang. ANAK INTI merupakan simbol dari dubalang dengan filosofinya bulek nan buliah digolongkon. Dubalang berfungsi untuk parik paga dalam nagari, tahu jo ereang nan jo gendeang. Kato dubalang kato mandareh. Apabila kita tilik jumlah pinyaram dalam piring sebanyak 8 buah, melambangkan adalah undang-undang nan salapan, sementara 12 buah anak inti didalamnya adalah undang-undang nan 12 baleh. Keduanya disebut dengan undang-undang duo puluah. Undang-Undang Nan Duo Puluah. UU ini mengatur tentang tuduhan, kejahatan/kesalahan dan cemooh. Undang-Undang Dua Puluh dibagi atas dua bagian besar, yakni Undang-Undang Dua Belas dan Undang-Undang Nan Delapan. Undang-undang nan salapan, namo kasalahan supayo jaleh, sadang panyatokan kasalahan, iyolah undang-undang nan duo baleh. Kalau batamu di nan salapan, basuo pulo di nan duo baleh, baru marupo kasalahan mamanuhi adat nan babakeh. Pantun diatas menyatakan bahwa undang-undang nan salapan berisi nama kesalahan yang sudah jelas, sedangkan undang-undang nan duo baleh memperjelas dari suatu kesalahan. UNDANG-UNDANG NAN SALAPAN UU Nan Salapan adalah UU yang menyatakan kejahatan atau kesalahan besar yang disebut juga dengan "Cemo nan bakaadaan", yang artinya perkiraan orang banyak terhadap seseorang yang melakukan kejahatan, yang dibuktikan dengan "basuluah matohari, bagalanggang mato urang rami". 1. DAGO-DAGI MAMBARI MALU. adalah membantahi adat yang sudah biasa, atau bisa juga diartikan dago adalah bawahan kepada atasan sedangkan dagi salah atasan kepada bawahan. Seorang panghulu yang bersalah biasanya akan dihukum malam, artinya disuruh berhenti jadi panghulu dengan diam-diam, tak perlu diketahui oleh orang banyak karena akan memperoleh malu. Jadi cukup yang bersangkutan sendiri mengundurkan diri sambil mengatakan, "bukiklah tinggi, lurahlah dalam. 2. SUMBANG SALAH LAKU PARANGAI. Sumbang adalah perbuatan yang salah dipandang mata namun belum dapat dijatuhkan hukuman secara adat. Misalnya sering bertamu ke rumah seorang janda yang tidak pada waktunya, merebut istri orang. Sedangkan salah adalah perbuatan yang sudah dapat dijatuhi hukuman, contohnya "manggungguang mambaok tabang", artinya melarikan istri orang atau mengawini seseorang yang melanggar adat. 3.SAMUN SAKA TAGAK DI BATEH. Samun ialah mengambil barang orang dengan paksa ditempat yang sepi, sedangkan saka adalah menyamun (merampok) dengan membunuh atau memukul korbanya dengan alat sehingga dapat menyebabkan kematian. Hukuman bagi samun adalah "andam" atau dipenjara kemudian dapat dibebaskan kembali, sedangkan hukuman bagi saka adalah "andam karam" atau dipenjara seumur hidup. 4. UMBUAK UMBI BUDI MARANGKAK. Umbuak maksudnya menipu orang dengan rayuan-rayuan atau tipu muslihat, sedangkan umbi menipu orang dengan jalan kekerasan dan ancaman. 5. CURI MALIANG TALUANG DINDIANG. Curi adalah mengambil harta benda orang lain dengan cara bersembunyi yang dilakukan pada siang hari, sedangkan maling adalah mengambil pada waktu malam hari. Sebagai bukti bahwa ada kemalingan pada suatu rumah adalah "taluang dindiang", atau rusaknya dinding atau pintu yang digunakan oleh maling untuk masuk ke dalam rumah. 6. TIKAM BUNUAH PADANG BADARAH. Tikam adalah menikamkan senjata atau benda tajam kepada orang lain sampai luka yang dibuktikan dengan terlukanya anggota tubuh dan darah yang meleleh serta senjata yang digunakannya berdarah. Sedangkan bunuah adalah menikam senjata atau atau tidak kepada seseorang untuk melenyapkan nyawa orang lain, yang dibuktikan dengan mayat yang terbujur. 7. SIA BAKA SABATANG SULUAH. Sia adalah menyulutkan api kepada suatu barang tetapi tidak sampai menghanguskan atau hanya sebahagian yang terbakar. Sedangkan baka adalah membakar sesuatu dengan tujuan untuk menghanguskan sampai menjadi abu. 8. UPEH RACUN BATABUANG SAYAK. Upeh adalah ramuan yang dijadikan racun yang dapat mematikan, baik dalam seketika atau dalam waktu yang lama. Sedangkan "tabuang sayak" adalah tempat menyimpan upeh atau racun tersebut yang digunakan sebagai alat bukti. UNDANG-UNDANG NAN DUO BALEH 1.ANGGANG LALU ANTAH JATUAH. Misalnya kita lewat di jalan kampung. Sepeninggal kita ada rumah orang dijalan tersebut yang kehilangan, sedangkan tidak ada orang lain yang lewat jalan tersebut. Tentu kecurigaan orang akan jatuh kepada kita. 2. PULANG PAGI BABASAH-BASAH. Misalnya kita ketemu dengan orang yang pakaiannya basah kuyup. Satu hari kemudian, kita mendengar di kampung lain ada orang yang kehilangan (dimaling), dan malingnya lari setelah jatuh ke dalam kolam. Tentu saja kita akan curiga kepada orang yang kita temui dalam keadaan basah tersebut. 3. BAJALAN BAGAGEH-GAGEH. Misalnya ketika duduk di warung kita melihat ada orang yang berjalan cepat dan tergesa-gesa sehingga orang di warung tercengang dibuatnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar kabar ada kemalingan atau kebaran di suatu tempat, tentu pikiran orang yang ada di warung, orang yang berjalan cepat-cepat tadilah pelakunya. 4. KACINDORONGAN MATO URANG BANYAK. Misalnya pagi hari kita bersama-sama duduk di warung, kemudian melihat seseorang pulang pagi dan berjalan cepat-cepat, sehingga semua pandangan mata orang yang duduk di warung tertuju kepadanya. 5. DIBAOK RIBUIK DIBAOK ANGIN. Ada seseorang yang menganiaya orang lain, kemudian diketahui oleh orang lain. Orang tersebut tentu akan menceritakan kejadian itu kepada yang lainnya sehingga orang sekampung akhirnya tahu kejadian itu. 6. DIBAOK PIKEK DIBAOK LANGAU. Misalnya ada orang yang membunuh, kemudian mayat korbannya dibuang ke semak-semak belukar. Perbuatan itu diketahui oleh seseorang. Walaupun awalnya dia takut untuk menceritakan kejadian itu kepada orang lain karena diancam oleh pelaku, lama-kelamaan tentu dia akan menceritakan juga kejadian itu kepada orang lain sehingga akhirnya khalayak umum tahu dengan kejadian tersebut. 7. TATUKIAK JAJAK MANDAKI. Adalah jejak yang tinggal ketika seseorang melakukan suatu kejahatan, misalnya mencuri pada suatu rumah. Walaupun begitu, tentu tidak bisa menuduh seseorang hanya dengan jejak yang tertinggal. 8. TADORONG JAJAK MANURUN. Sama dengan "tatukiak jajak manurun", yaitu jejak yang tinggal ketika seseorang melakukan suatu kejahatan. 9.BAJUA BAMURAH-MURAH. Biasanya, orang yang mengambil milik orang lain akan menjual barang yang dicurinya dengan harga murah agar cepat dibeli oleh orang lain, karena apabila barang tersebut lama berada ditangannya, tentu akan cepat ketahuan bahwa dialah yang mengambil barang tersebut. Sipembeli, (seharusnya) tentu merasa curiga dengan harga tersebut, dan dia (juga seharusnya) akan mencari informasi tentang identitas penjual barang. Apabila dia mendengar ada orang kehilangan barang yang sama dengan yang ditawarkan pemuda tersebut, orang akan menarik kesimpulan bahwa barang tersebut adalah hasil curian. 10. BATIMBANG JAWEK DITANYOI. Pengertiannya dalam bahasa Indonesia adalah berselisih faham atau bisa juga diartikan dengan menjawab bertele-tele. Misalnya, ada kasus kemalingan kemudian pihak berwajib menanyai beberapa penduduk. Ketika tertanya kepada pelaku pencurian, tentu saja jawaban yang akan diberikannya bertele-tele sehingga aparat segera mengambil kesimpulan bahwa dialah pelaku pencurian itu. 11. LAH BAURIAH BAK SIPASIN. Misalnya seseorang melakukan pencurian, ketika sedang beraksi, tersenggol benda tajam sehingga melukai tangannya dan darahnya ada yang tercecer. Ketika aparat berwajib melakukan pengusutan, tentu salah satu bukti yang bisa digunakan adalah darah yang tercecer tersebut. 12. LAH BAJAJAK BAK BAKIAK. Maksudnya disini adalah, ketika seseorang melakukan pencurian kepergok oleh orang lain sehingga penduduk beramai-ramai dapat menangkap pelaku pencurian tersebut. Di Pandai Sikek dikenal salah nan salapan sebagai berikut : Salah kato , Salah rupo , Salah cando, Salah raso, Salah cotok, Salah lulue, Salah tariak, Sumbang Salah . Empat salah patamo seperti : Salah kato, salah rupo, salah cando, salah raso, tamasuak kasalahan ringan nan cukup disapo (ditegur) sajo, dan diubahi. Salah cotok, salah lulue, salah tariak, pernah diberi sangsi nan barek . Salah cotok bakuduang paruah Salah lulue babadah paruik Salah tariak mangumbalikan. Sumbang-salah adolah kasalan nan paliang barek: sudahlah sumbang, salah pulo. Biasonyo mambaie dando ka nagari. DIBALIAK MAKNA MAKANAN TRADISIONAL

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

How Some Men Fake an 80-Hour Workweek, and Why It Matters

Artikel lainnya »